PBNU Minta Lakpesdam Senantiasa Kembali Pada Jati Diri dan Tujuan Berdirinya

KH Hasyim Muzadi, PBNU

Jakarta, lakpesdam.or.id. Dalam rangka melaporkan rencana kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lakpesdam, beberapa pengurus dan pelaksana harian Lakpesdam berkunjung ke kantor PBNU pada Rabu (14/10/09). Pada kesempatan itu, Basihin Hasan, Ketua Pengurus Lakpesdam, menyampaikan beberapa hal terkait dengan rencana Rakernas Lakpesdam 2009 yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 sampai 20 Nopember 2009 di kota Batu Malang Jawa Timur. ”Rakernas Lakpesdam kali ini diselenggarakan dalam rangka ikut serta mensukseskan Muktamar NU ke 32 di Makasar,” pungkas Nasihin Hasan di hadapan Ketua Umum PBNU.

Sebagai salah satu Lembaga resmi NU, Lakpesdam merasa berkepentingan terhadap sukses dan berhasilnya Muktamar NU yang akan datang. Melalui Rakernas nanti, seluruh komponen dan aktifis Lakpesdam mulai dari tingkat cabang hingga wilayah se-Indonesia akan mengerahkan segala pemikiran dan idenya untuk menyusun Strategic Planning/Rencana Strategis (Renstra) Lakpesdam lima tahun ke depan dan menyusun poin-poin program strategis apa yang sebaiknya dilakukan dan dibutuhkan oleh NU ke depan melalui beberapa rangkaian kegiatan yang terkait dan mendukung keperluan tersebut.

Kegiatan pendukung sebelum Rakernas yang sedang berlangsung saat ini antara lain “Survey Peran Kelembagaan NU sebagai Organisasi Sosial Keagamaan dan Kebutuhan Pengembangan SDM NU” yang diselenggarakan atas kerja sama Lakpesdam dan LP3ES dengan melibatkan kurang lebih 1300 responden di 60 kota/kabupaten. Dari hasil survey inil diharapkan bisa memperoleh sumber data yang bisa dijadikan rujukan untuk menyusun rencana strategis jangka menengah NU ke depan. Selain itu pula, melalui Rakernas itulah hasil survei tersebut akan di-olah lebih lanjut.

Ketua Umum PBNU KH. Hasyim Muzadi yang didampingi Abd. Mun’im DZ (Ketua LTN NU) menyambut gembira dan positif atas prakarsa dan rencana Rakernas Lakpesdam tersebut dan menyampaikan arahannya agar Lakpesdam senantiasa kembali kepada jati diri dan niat serta tujuan awal berdirinya. ”Dua poin penting tujuan awal berdirinya Lakpesdam adalah bagaimana Lakpesdam mampu “memintarkan” orang-rang NU dalam berbagai bidang (baca SDM NU) dan Lakpesdam juga diharapkan untuk mampu membuat NU lebih menarik dan bisa diterima dengan baik oleh kalangan cendekiawan dan ilmuwan,” jelas Ketua Umum PBNU yang juga pengasuh PP. Al-Hikam.

Menurutnya lebih lanjut, untuk bisa mewujudkan kedua tujuan tersebut Lakpesdam harus ditangani oleh tokoh yang punya keahlian kuat di bidang teologi (ideolog) dan teknologi.(teknokrat). Ideologi NU yang moderat harus dikerjakan dengan serius dan memperoleh porsi yang lebih banyak karena hingga saat ini kaderisasi dan regenerasi ideologi tersebut sangat mendesak dilakukan. Poin penting lainya yang perlu selalu diingat oleh lembaga baik Lakpesdam maupun lembaga atau badan otonom lainya adalah ketika menjalankan program dan tugasnya yang terkait dan memasuki wilayah syari’ah dan menyangkut persoalan nilai hendaknya program tersebut dilakukan bersama-sama dengan Syuriyah agar tidak menimbulkan permasalahan dan melampaui garis wewenang Syuriyah. [Mukh]

BMT NU SejahterA

BMT NU SejahterA

BMT NU SejahterA


Selamat Atas Berdirinya Cabang BMT NU SejahterA, PCNU Kebumen. Semoga menjadi lembaga keuangan umat yang amanah dan berkeadilan. Beralamatkan di Gedung PCNU Lantai Utama, Jl Kusuma No 96 Kebumen.

Kantor Pusat; Jl Raya Mangkang km.15 No 99, Mangkang-Tugu-Semarang.

Tradisi “Likuran” Mengharap “Lailatur Qadar”

badruznucultural.wordpress.com Malam Jum’at kemarin adalah malam ke 21 bulan Ramadhan 1430 H. di semua masjid dan mushalla di desa Jatimulyo kecamatan Alian Kebumen masih mempertahankan tradisi “likuran”. Tradisi likuran adalah malam yang diyakini sebagai sepertiga akhir malam ramdhan dimana malam lailatul qadar ada di salah satu malam-malam tersebut. walaupun banyak kaum muslimin tidak mendapatkan kejelasan kapan malam kemuliaan itu hadir, kaum muslimin tetap optmis mereka harus meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah malam ramadhan. Sebagian kaum muslimin juga meyakini malam “qadar” tidak di tentukan waktunya tetapi masih di malam ramadhan bahkan bisa saja di awal atau di tengah malam ramdhan. Tetapi yang paling banyak di iukuti adalah pendapat bahwa malam “qadar” hadir di sepertiga akhir malam ramdhan. Wallahu a’lam.

Dengan tidak di tunjukkannya waktu secara jelas, ini mengisyaratkan bahwa ummat Islam agar selalu beribadah tanpa melihat waktu-waktu tertentu khususnya di malam ramdhan. Di desa Jatimulyo Alian Kebumen, pada masjid dan mushalla di malam likuran setidaknya mengadakan kegiatan yang bervariatif diantaranya adalah; tahlil dan dzikir bersama, ada yang membaca alquran secara bersama-sama dan dibagi semua jama’ah dari 30 juz dalam alquran dan khatam dalam satu malam, kemudian ada pula yang diisi ceramah tentang alqur’an. Tradisi untuk mengakhiri kegiatan malam likuran ini adalah “berkatan” atau menerima satu besek makanan hasil shadaqahan para jama’ah yang dikumpulkan kemudian di bagikan. Shadaqahan di waktu tersebut merupakan hal yang diperintahkan, setidaknya merupakan kebaikan. Dan bukan dalam rangka menghususkan waktu tertentu untuk melakukan shadaqahan. Karena pada kenyataanyya, jama’ah masjid, mushalla yang mayoritas “nahdliyin” itu melakukan shadaqahan juga di banyak waktu dan tempat. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak menghusukan waktunya alias melakukan itu dibanyak waktu.

Malam likuran merupakan kegiatan biasa saja, dalam rangka memotivasi jama’ah agar meningkatkan ibadah menjelang berakhirnya ramadhan. Kegiatannya pun berisi kebaikan-kebaikan, sudah semestinya kegiatan likuran tidak di tuduh sebagai kegiatan yang bid’ah, menyimpang dari ajaran Islam. Saya kira sangat berlebihan, karena isinya untuk mengajak kebaikan. Toh, itu semua juga berdasar pada dalil-dalil yang ada, walau mungkin saja dalil yang ada di anggap oleh mereka merupakan dalil yang “mungkin” lemah. Tetapi, ada juga dalil sunnah yang shahih yang menerangkan kapan malam lailatul qadar itu hadir menghampiri umat Islam di dunia ini.

Suart Al Qadr:
1.Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam Qadar
2.Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu
3.Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu malam
4.Pada malam itu turun para malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannnya untuk mengatur semua urusan
5.Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar
Malam Qadar mempunyai beberapa arti diantaranya malam kemuliaan, karena pada malam itu permulaan di turunkannya alquran dan Lauh Mahfudz kepada nabi Muhammad SAW. (QS: 97:1-5, Syamil Quran, Departemen Agama RI, 2007:598)

Perdebatan mengenai waktunya;

Hadits ‘A`isyah RA, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda:

تَحَرَّوْا (وَفِيْ رِوَايَة: اِلْتَمِسُوْا) لَيْلَةَ القَدْرِ فِي الوِتْرِ مِنَ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah Lailatul Qadr di malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhariy no.2017 dan Muslim no.1169)

اِلْتَمِسُوْهَا فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ (يَعْنِي لَيْلَةَ القَدْرِ) فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ البَوَاقِي
“Carilah di sepuluh hari terakhir, jika salah seorang di antara kalian tidak mampu atau lemah maka jangan sampai terluput dari tujuh hari sisanya.” (HR. Muslim no.1165)

“Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang Lailatul Qadr, tetapi fulan dan fulan berdebat hingga diangkat (tidak bisa lagi diketahui kapan kepastian lailatul qadr terjadi), semoga ini lebih baik bagi kalian, maka carilah pada malam 29, 27 dan 25.” (HR. Al-Bukhariy 2023)

Bagaimana mengharap Lailatul Qadr?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa shalat malam/tarawih (bertepatan) pada malam Lailatul Qadr dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhariy 38 dan Muslim no.760)

Diriwayatkan dari ‘A`isyah, dia berkata: Aku bertanya: Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku tahu kapan Lailatul Qadr (terjadi), apa yang harus aku ucapkan? Beliau menjawab: “Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Allahmumma Innaka ‘Afuwwun Karim, Tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘Anni. Artinya: “Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.” (HR. At-Tirmidziy 3760 dan Ibnu Majah 3850, sanadnya shahih)

Dari ‘A`isyah berkata:
“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh serta mengencangkan kainnya (yaitu menjauhi istri-istrinya untuk konsentrasi beribadah dan mencari Lailatul Qadr).” (HR. Al-Bukhariy no.2024 dan Muslim no.1174)

Adakah Tanda-tandanya;

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Pagi hari malam Lailatul Qadr, matahari terbit tidak ada sinar yang menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR. Muslim no.762)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Malam Lailatul Qadr adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, dan keesokan harinya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR. Ath-Thayalisiy 349, Ibnu Khuzaimah 3/231 dan Al-Bazzar 1/486, sanadnya hasan)

Mengingat perbedaan pendapat tentang lailatul qadar, masing-masing juga mempunyai dasar, begitu juga mengenai bilangan reka’at shalat sunat tarawih baik yang 8 maupun yang 20, atau yang jumlahnya lebih banyak lagi, masing-masing juga punya dasar. Sudah selayaknya tidak diperdebatkan dan saling megklaim yang paling benar. Yang mestinya menjadi perdebatan adalah tentang system pendidikan agama Islam kita, mengapa masih banyak yang tidak melakukan shalat sunat tarawih atau ibadah lainnya di bulan ramadhan. Ini perlu untuk diperbaiki, karena inilah problem utama umat Islam, terjebak dalam masalah khilafiyah sedangkan masalah yang pokok dilupakan atau diserahkan kepada institusi pemerintah dan sekolah. Memperbaiki system pendidikan agama Islam di masjid, mushalla jauh lebih penting dari pada di sekolah-sekolah. Karena pendidikan agama Islam di masjid mushalla bebas dari kepentingan, berlaku segala usia dan dilakukan sepanjang waktu.
Wallahu a’lam.

(in memoriam) KH Imam Muzani Bunyamin

Keluarga NU Kebumen Segenap Pengurus Cabang Lakpesdam NU Kebumen turut berduka atas wafatnya KH Imam Muzani Bunyamin pada 9 September 2009 di Cirebon Jabar dan di makamkan di Pemakaman keluarga di Bulus Kritig Petanahan Kebumen. Semoga di terima di sisi Allah SWT. Amien. K.H Imam Mudjani, demikian nama lengkapnya, terlahir pada tanggal 11 September 1951. Beliau terlahir sebagai anak ketiga dari tujuh bersaudara. Tempat tinggalnya di Susukan, Cirebon. Dengan tekad dan kegigihannya bapak delapan anak ini termasuk pendiri pondok Pesantren Darussa’adah yang bertempat di Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen 500 m ke barat dari PP Mifathul Ulum Lirap. Dibawah asuhan KH. Bunyamin dan Nyai Sa’adah (kedua orang tua KH Imam Muzani). Kepada kakeknya; KH Abdul Syukur, yang merupakan murid Kyai Idris Jamsaren Solo, beliau benyak menimba ilmu-ilmu dasar-dasar keislaman, utamanya membaca Al Qur’an. Ketekunan, keprihatinan dan kedisiplinannya selalu mendapatkan pengawasan khusus dari ayahnya. Maka tidak aneh jika dalam usia yang sangat muda KH. Imam Muzani mampu menghafal dan menguasai kitab Alfiyah (seribu bait) dengan baik dan sempurna.

KH Imam Muzani Bunyamin

KH Imam Muzani Bunyamin

Merasa belum cukcup dengan apa yang ia miliki, maka pada tahun 1968 KH. Muzani memperluas cakrawala ilmu agama dengan berkelana keberbagai Pondok pesantren, seperti Lirboyo (Jatim), menjadi tujuan pertama dalam memperluas ilmunya. Selama kurang lebih dua tahun di Lirboyo kemudian melanjutkan ke Ploso selama empatbelas bulan. Dalam tujuan pencarian ilmunya beliau kemudian meneruskan ke Pesantren Lirap, Petanahan, Kebumen yang saat itu di asuh oleh KH Durmuji Ibrohim. Setelah selesai, beliau meneruskan untuk bertabaruk pada Kyai Qulyubi di Solo dan Kyai Chumeidi di Kaliwungu. Tahun 1974 beliau pindah kepesantren Cidanu, Radasari, Padegelang, Banten yang saat itu diasuh oleh Syekh Dimyati. Juli 1975 beliau didawuhi oleh gurunya (Syekh Dimyati) untuk mencari kitab Al Umm( karangan Imam Syafi’I). Dua puluh eksemplar dari kitab Al Umm beliau dapatkan. Belum sempat dikajinya, KH. Durmuji Ibrohim, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum lirap datang menemui Syekh Dimyati tentang keinginannya mengambil Imam Muzani sebagai menantunya. Setelah mendapat persetujuan dari ayahnya, KH Imam Muzani mendengar kabar baik itu. Tanpa basa basi, Syekh Dimyati menyuruh KH. Imam Muzani untuk segera menikah. Menanggapi keputusan gurunya, beliau sempat protes akan masalah kitab Al Umm yang akan dipelajarinya. Berkat kebijaksanaan gurunya yang tetap memojokkan dengan berkata “wis kitab Al Umm-e diganti bojo wae“, akhirnya beliaupun mengikuti dawuhnya. Tepat bulan Agustus 1975, beliau resmi menikah dengan putri KH. Durmuji Ibrahim sekaligus menetap dikediaman mertuanya (di Pon. Pes. Miftahul Ulum, Lirap). Di masa hidupnya beliau juga seorang da’I yang kalem. Beliau juga pernah menjadi Rais Syuriyah PCNU kebumen dan ketua Dewan Syuro PKB di tahun 1999. pada tahun 2004 beliau seorang calon wakil Bupati dari PKB bersama Bapak Kusnanto. Selamat jalan Kyai!

(dikutip dari blog ponpes darussa’adah.blogspot.com)

Ketika Rakyat Beroposisi

Badruzzaman

Badruzzaman

Sepuluh tahun lebih reformasi berjalan. begitu juga dengan era otonomi daerah, sudah lama. era ini memberikan kewenangan kepada daerah kabupten untuk mengelola keuangan daerah. juga diberi kewenangan membuat perda-perda yang berkait dengan daerah itu sendiri. di samping perda yang ada memang keharusan sebagai turunan peraturan yang ada diatasnya, juga perda untuk mengakomodasi keinginan masyarakat. di Kebumen, mungkin perda no 53 tahun 2004 tentang partisipasi. perda ini, tidak semua kabupaten memiliki, begitu juga dengan perda yang lain.

kebebasan daerah dalam mengelola pembangunannya mestiny juga harus diikuti daerah setingkat desa dan kelurahan. persoalannya, peraturan desa hanya berkutat pada sekedar melaksanakan rutinitas tahunan seperti peraturan desa berkait dengan APBDes (anggaran perencanaan belanja desa). berkait dengan otonomi daerah, sebetulnya desa di beri kebebasan untuk menentukan besar kecilnya anggaran kegiatan desa. begitu juga kebebasan menyusun rencana kegiatan, tanpa menghilangkan pos kegiatan yang sudah di tentukan dari peraturan daerah yang ada.

menjadi persoalan, ketika sebuah peraturan dipahami dengan tidak cermat, misalnya program desa dalam merawat jalan-jalan desa di prioritaskan jalan yang ada dalam gambar peta desa. sementara jalan, gang, yang tidak masuk dalam gambar peta desa tidak diprioritaskan mendapat giliran pembangunan jalan setapak. saya tidak tahu persis peta-peta desa yang ada di buat tahun berapa. yang jelas peta-peta desa di Kebumen harus di revisi. pasalnya, banyak jalan, gang di desa-desa tidak masuk dalam gambar desa. ini bisa di sebabkan karena jalan, gang tersebut tadinya merupakan jalan pribadi namun kemudian sangat ramai sebagai jalan alternatif. kemudian jalan baru yang dibuat oleh warga. satu sisi, problem seperti ini tidak ada kaitannya dengan peta desa. namun, kenyataan yang ada pemerintah desa masih banyak yang kebingungan untuk menentukan prioritas pembangunan infrstruktur desa.

al hasil, banyak warga desa yang berinisiatif untuk rembug warga secara kecil-kecilan di tingkat RT untuk berswadaya dana guna membangun jalan setapak yang tidak mendapat perhatian dana dari pemerintah desa, tanpa mengharap bantuan dari alokasi dana desa. dan ini terjadi saya kira di banyak tempat. ironisnya, sejak di berlakukannya ADD (alokasi dana desa) dimana didalamnya terjadi pembesaran kucuran dana dari pemerintah daerah, tetapi seiring dengan itu warga semakin jauh dari pemerataan pembangunan. pembangunan desa terfokus pada pemeliharaan, renovasi kantor balai desa, batas dsea, pagar desa, fasilitas olah raga desa, jalan utama desa, dll.

sikap warga berembug kemudian berswadaya dana untuk membangun jalan setapak di gang-gang kecil anehnya banyak terjadi dalam waktu yang lama. pada sutau desa bahkan selama 10 tahun sudah membangun jalan setapak 3 kali dengan swadaya warga. ironis memang, padahal dana desa semakin besar di dapat dari pemerintah daerah. sikap warga yang demikian setidaknya merupakan bentuk positif sekaligus negatif.

pertama, sikap yang demikian merupakan partisipasi warga negara dalam pembangunan infrastruktur fasilitas umum. gotong royong merupakan sikap yang baik yang harus dipelihara. terlpas dari paham tidaknya, sebetulnya tanggungjawab siapa membangun fasilitas umum, desa atau warga.

kedua, sikap tersebut merupakan sikap kelompok oposan, kritis terhadap kebijakan negara, pemerintah yang tidak kunjung dinikmati mereka yang belum menikmati. oposan bagi saya, bagus adanya sebagai autokritik terhadap kebijakan pemerintah di tingkat dedsa. tetpi, oposan akan dimakanai sebagai sikap yang kurang baik jika terjadi terus menerus tanpa ada tindak lanjut untuk memperbaiki peraturan yang berkait. ini akan menghilangkan pemahaman dan pendidikan politik terhadap tanggung jawab pemerintah dan hak warga negara.

keadaan demikian ironis jika dibandingkan dengan program pemerintah daerah dalam membangun, merawat infrstruktur jalan di perkotan, mulai jalan desa, jalan kecamatan, kabupaten dan jalan propinsi yang sudah berapsal hotmik dan selalu dirawat dengan hotmik setiap tahunnya. sementara banyak di jalan perdesaan yang masih becek ketika hujan turun.

perbaikan pemahaman di tingkat pemerintah desa menjadi tanggung jawab pemerintah daerah untuk meningkatkan SDM nya. perbaikan peraturan yang ada yang memberikan kebebasan pemerintah desa untuk berkreasi, menentukan sendiri dalam pembangunan termasuk pembangunan non fisik (SDM) warga juga perlu dirubah. hak ini untuk menghindara pemerintah desa berpegangan pada plavon dan pagu dari setiap pos kegiatan yang sudah ada diblangko yang disediakan dalam nota keuangan atau LPJ APBDes.

Muktamar NU 32

Logo Muktamar NU 32

Logo Muktamar NU 32

Peduli Sosial Lewat Ta’mir Masjid

Memakmurkan masjid adalah tugas pokok ta’mir masjid. makmurnya masjid ditandai dengan semangatnya jama’ah masjid dalam shalat berjama’ah. adalah fungsi utamanya masjid sebagai tempat sujud (shalat berjamaah). shalat berjamaah dan shalat jum’at bukan hanya sebuah kewajiban kita sebagai muslim, namu juga mengajarkan perstauan umat Islam, kekompakan, persaudaraan sesama muslim, disiplin, dan lain-lain.

begitu juga dengan pendidikan agama Islam. masjid, tidak bisa dilupakan. sangat berperan dalam penyelenggaraan pendidikan agama Islam. masjid, adalah tempat pendidikan, transformasi pengetahuan agama, syariat yang tidak dibatasi oleh waktu, usia dan umur. hal ini bisa dilihat pada masjid di sekitar kita banyak sekali aktivitas pendidikan agama setiap malam atau setiap saat. begitu juga fungsi masjid sebagai tempat pembinaan ummat misalnya dalam khutbah jum’at, acara peringatan-peringatan hari besar Islam, dan sebagainya.

adalah tugas ta’mir untuk mengatur, memanajemen kegiatan pendidikan agama Islam secara lebih rapih. termasuk diantaranya berinovasi, berkreasi dalam memakmurkanyya.

masjid melalui ta’mir bisa diupayakan ke arah kepedulian jama’ah pada persoalan sosial, misalnya tamir masjid menyediakan kotak amal sebanyak dua buah. satu untuk kotak amal masjid, satunya lagi untuk sosial, terserah jama’ah atau umat Islam mau menginfakkan ke kotak yang mana. kotak amal sosial di dalam masjid bisa di gunakan untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkannya di lingkungan masjid misalnya anak putus sekolah, untuk beasiswa, Tandas Bapak Salim Wazdy, MPd kepada kami di ruang akademik STAINU Kebumen. Perlu adanya upaya misalnya pelatihan manajemen keuangan, dana masjid untuk ta’mir yang dilakukan oleh ormas Islam lanjut Salim Wazdy yang juga memegang LP3M STAINU Kebumen. (drus)

Ber NU, Lillahi Ta’ala

Masykur Razaq (ketua PCNU kebumen)

Ber NU itu harus Lillahi Ta’ala. jadi pengurus NU agar lillahi ta’ala salah satu faktornya adalah “mapan” begitu pendapat KH Masykur Razaq, Ketua Tanfaidziyah PCNU Kebumen. lanjutnya, berjuang di NU yang demikian agar dalam perjalanannya tidak mengharapkan sesuatu tetapi malah sebaliknya hanya mengharap ridha Allah SWT di akherat kelak.

Kondisi “mapan” dalam arti siap lahir bathin ber NU, ekonominya juga harus mapan, jadi ketika di NU meninggalkan keluarga sudah tenang, dicontohkan oleh beliau. beliau adalah PNS sebentar lagi pensiun, keluarganya juga merupakan keluarga berpunya, ladang sawah dan perkebunan kelapa yang sangat luas. beliau memimpin PCNU Kebumen dua periode ini dari tahun 2003 hingga 2012 mendatang, sebelum di PCNU beliau juga aktif di MWCNU Kec. Alian dan juga sebagai penceramah atau da’i NU. Tugas PNS beliau di madrasah Salafiyah wonoyoso Kebumen baik di MTs Maupun di MA Salafiyah. beliau saat ini juga masih menjabat sebagai kepala sekolah MTs Salafiyah Wonoyoso Kebumen. Pembawaannya yang lugu dan apa adanya membuat beliau terpilih kembali jadi ketua PCNU pada akhir 2008 tahun lalu.

beberapa keberhasilan beliau dari sisi perbaikan sarana dan prasarana kantor PCNU adalah pembangunan aula utama, di susul dengan pembangunan, renovasi gedung berlantai 2 dan sudah jadi di akhir kepemimpinan beliau pada periode pertama. di pertengahan 2009 ini beliau mengantarkan PCNU punya BMT NU Sejahtera yang berada di aula 1 PCNU kebumen untuk warga NU. dan masih banyak indikator keberhasilan beliau dalam memimpin PCNU, setidaknya ke arah yang lebih baik. beliau berpendapat bahwa pembangunan sarana dan prasarana gedung yang permanen mutlak di perlukan, tinggal kedepan memperbaiki SDM NU baik pengurus maupun jama’ah NU, tandas beliau. (drus)

Islam Keras dan Santun

102

Said Aqiel Siradj

Tema radikalisme Islam kembali mencuat. Sebutannya pun bisa beragam, seperti ekstrem kanan, fundamentalis, dan militan. Ada juga yang menyebut radikal dengan sebutan Neo-Khawarij dan Khawarij abad ke-20.

Radikalisme sekelompok Muslim tidak dapat dijadikan alasan untuk menjadikan Islam sebagai biang keladi radikalisme. Yang pasti, radikalisme berpotensi menjadi bahaya besar bagi masa depan peradaban manusia.

Gerakan radikalisme bukan sebuah gerakan spontan, tetapi memiliki faktor pendorong. Gejala kekerasan ”agama” bisa didudukkan sebagai gejala sosial-politik daripada gejala keagamaan. Akar masalahnya bisa ditelusuri dari sudut sosial-politik dalam kerangka historisitas manusia.

Faktor lain adalah sentimen keagamaan dan solidaritas keagamaan untuk kawan yang tertindas oleh kekuatan tertentu. Namun, hal ini lebih tepat disebut faktor emosi keagamaan, bukan faktor agama an sich, meski gerakan radikalisme selalu mengibarkan simbol agama seperti jihad dan mati syahid. Emosi keagamaan adalah agama sebagai pemahaman realitas, bersifat. Jadi, sifatnya nisbi dan subyektif.

Faktor kultural juga memiliki andil besar yang melatarbelakangi munculnya radikalisme. Secara kultural, di masyarakat selalu ditemukan usaha untuk melepaskan diri dari jerat jaring-jaring kebudayaan yang dianggap tidak sesuai. Faktor kultural adalah sebagai antitesa terhadap budaya sekularisme Barat yang dicap sebagai musuh besar.
Islam Indonesia

Islam adalah agama ”pendatang” karena berasal dari Timur Tengah. Namun, berkat proses transformasi yang berjalan damai, Islam menjadi bagian tak terpisahkan kehidupan bangsa Indonesia. Sesuai makna dasar Islam, dari kata aslama, bermakna ”damai”, ternyata para pembawa panji-panji Islam tempo dulu mampu menyebarkan agama Islam dengan damai.

Penyebaran Islam di Indonesia berjalan lancar dan tidak menimbulkan konfrontasi dengan pemeluk agama sebelumnya. Masuk melalui pantai Aceh, Islam dibawa para perantau dari berbagai penjuru, seperti Arab Saudi dan sebagian dari mereka ada yang berasal dari Gujarat.

Penyebab proses Islamisasi berjalan damai karena kepiawaian para mubalig dalam memilih media dakwah, seperti sosial budaya, ekonomi, dan politik. Dalam penggunaan media budaya, sebagian mubalig memanfaatkan wayang sebagai salah satu media dakwah. Sunan Kalijaga, misalnya, mampu menarik simpati rakyat Jawa yang amat akrab dengan budaya dan tradisi Hindu-Buddha.

Para pembawa panji Islam juga memanfaatkan aspek ekonomi untuk mengembangkan nilai-nilai dan ajaran Islam. Dari berbagai literatur terungkap, aspek itu menempati posisi strategis dalam upaya Islamisasi di Nusantara. Salah satu faktor yang mendorong minat masyarakat Nusantara mengikuti agama para pedagang itu karena tata cara dagang serta perilaku sehari-hari lainnya dianggap menarik sanubari masyarakat setempat.

Setelah kokoh menancapkan pengaruhnya di Indonesia, peran Islam lambat laun meningkat ke wilayah politik melalui upaya mendirikan kerajaan Islam, antara lain Kerajaan Pasai, Demak, Mataram, dan Pajang. Lalu, semua itu mengalami keruntuhan karena adanya berbagai faktor, baik konflik internal di antara anggota keluarga kerajaan maupun faktor eksternal seperti serbuan kolonialis Portugis dan Belanda. Namun, posisi Islam tetap kukuh dan kian menyatu dengan kehidupan masyarakat dan hampir selalu memperlihatkan wajahnya yang ramah dan santun. Gejolak yang sifatnya radikal nyaris tak terdengar.
Dakwah santun

Memahami Islam secara tekstualistik akan mendatangkan sikap ekstrem. Padahal, Al Quran tidak melegitimasi sedikit pun perilaku dan sikap yang melampaui batas. Dalam konteks ini, ada tiga sikap yang dikategorikan ”melampaui batas”.

Pertama, ghuluw, bentuk ekspresi berlebihan manusia dalam merespons persoalan hingga mewujud dalam sikap-sikap di luar batas kewajaran kemanusiaan.

Kedua, tatharruf, sikap berlebihan karena dorongan emosional yang berimplikasi kepada empati berlebihan dan sinisme keterlaluan dari masyarakat.

Ketiga, irhab, yang mengundang kekhawatiran karena bisa membenarkan kekerasan atas nama agama. Irhab adalah sikap dan tindakan berlebihan karena dorongan agama atau ideologi.

Idealnya, seorang Muslim harus memahami ajaran Islam secara utuh, hingga berdampak sosial yang positif bagi dirinya. Alangkah kering dan gersangnya agama jika aspek eksoterik dalam Islam hanya sebatas legal-formal dan tekstualistik. Sebuah ayat tentang jihad akan terasa gersang jika pemahamannya dimonopoli tafsir ”perang mengangkat senjata”. Padahal, jihad pada masa Rasulullah merupakan wujud pembebasan rakyat untuk menghapus diskriminasi dan melindungi hak-hak rakyat demi terbangunnya tatanan masyarakat yang beradab.

Puncak keberagamaan seseorang terletak pada sikap arif dan bijaksana (al-hikmah). Di sinilah perlunya mengedepankan aspek esoteris Islam. Sisi ini merupakan pemahaman keislaman yang moderat, serta bentuk dakwah yang mengedepankan qaulan karima (perkataan yang mulia), qaulan ma’rufa (perkataan yang baik), qaulan maisura (perkataan yang pantas), qaulan layyinan (perkataan yang lemah lembut), qaulan baligha (perkataan yang berbekas pada jiwa), dan qaulan tsaqila (perkataan yang berat). Semua sikap itu telah diamanatkan dalam Al Quran.

Said Aqiel Siradj
Ketua PBNU

Dimuat HU Kompas, Jumat, 4 September 2009

Ulil Abshar Abdalla: Pengawasan Ceramah Perlu

ulil

TEMPO Interaktif, Jakarta – “Saya meletakkan Islam pertama-tama sebagai sebuah ‘organisme’ yang hidup; sebuah agama yang berkembang sesuai dengan denyut nadi perkembangan manusia. Islam bukan sebuah monumen mati yang dipahat pada abad ke-7 Masehi, lalu dianggap sebagai ‘patung’ indah yang tak boleh disentuh tangan sejarah.”

Alinea itulah yang membuka tulisan Ulil Abshar Abdalla bertajuk “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam” dan dimuat di Kompas, 18 November 2002. Tulisan Ulil, ketika itu dia Koordinator Jaringan Islam Liberal, memantik reaksi keras dari sebagian kelompok Islam. Forum Ulama Umat Islam, misalnya, mengetuk palu fatwa mati bagi menantu KH A. Mustofa Bisri, pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Thalibien, Rembang, itu.

Empat tahun “menghilang” ke Amerika Serikat, Ulil pulang ke Indonesia dan melempar kejutan: dia mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dalam Muktamar Ke-32, Januari mendatang. Menurut Ulil, Nahdlatul Ulama sudah berubah dan saatnya dipimpin orang yang lebih muda. “Tentu dengan dukungan kiai-kiai senior,” katanya.

Kepada para senior di Nahdlatul Ulama ini, Ulil juga siap menjelaskan berbagai pendapatnya yang dianggap kelewat liberal. Dia mengatakan pikiran dan kritiknya selama ini sebenarnya tak diarahkan ke Nahdlatul Ulama, tapi dialamatkan ke kelompok-kelompok radikal di Indonesia.

Menjelang buka puasa Kamis pekan lalu, di Teater Utan Kayu, Jakarta, kandidat doktor dari Universitas Harvard, Amerika, ini membeberkan pandangannya soal Islam radikal, Nahdlatul Ulama, dan kehidupan keberagamaan di Amerika kepada Sapto Pradityo, Yos Rizal Suriaji, Yophiandi, dan Irfan Budiman.

Apa modal Anda maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama?
Bukannya sombong, saya rasa modal saya memadai. Saya punya pendidikan pesantren yang baik, mengaji fikih sesuai dengan hierarki pesantren, punya pemahaman kitab kuning cukup baik. Saya lulus dari LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) dan punya pendidikan Barat. Saya juga lahir dari keluarga NU dan berkiprah di NU cukup lama.

Untuk maju sebagai ketua umum, bukankah perlu restu kiai, seperti kiai Langitan, Tebuireng, dan Asembagus? Bagaimana penerimaan pesantren-pesantren itu terhadap Anda?
Saya memang baru pergi ke Asembagus, Situbondo. Itu pun baru ketemu beberapa kiai. Tapi, insya Allah, saya bisa mendapat restu pesantren-pesantren itu. Memang ada yang beranggapan saya punya pikiran terlalu bebas. Tapi saya yakin mereka bisa paham kalau saya jelaskan.

Sebagian kalangan NU merespons negatif Jaringan Islam Liberal. Ini jelas tak menguntungkan pencalonan Anda.
Pencitraan negatif itu datang dari luar NU dan merembes ke NU. Saya ingin mengubah citra itu. Pikiran dan kritik saya selama ini sebenarnya tak diarahkan ke NU, tapi dialamatkan ke kelompok-kelompok radikal di Indonesia. Bagi saya, liberal juga bukan berarti bebas tanpa batas. Saya akan berusaha mendekatkan ide-ide saya dengan bahasa NU. Di NU sendiri sebenarnya banyak sekali tradisi liberal. Dalam kasus bunga bank, misalnya, tak ada keputusan final bahwa bunga bank termasuk riba yang haram. Ada tiga pendapat di NU.

Apa yang perlu direformasi di tubuh NU?
Menurut saya, NU ke depan bukan hanya milik muslim tradisional. Tantangannya adalah bagaimana mendekatkan NU ke kelas menengah kota dan bagaimana berhadapan dengan kelompok radikal. Diaspora kaum muda NU juga sudah sedemikian luas, tak hanya di pedalaman, tapi juga di kota-kota besar. Jumlah mereka besar. Banyak juga yang bersekolah hingga ke berbagai negara, dari Mesir, Saudi, Pakistan, hingga Inggris dan Amerika. Ini yang harus diperhatikan NU di masa depan. Dan saya kira untuk merangkul mereka dibutuhkan pemimpin muda (tertawa).

Bagaimana Anda melihat kecenderungan NU yang kerap tergiur terjun ke politik?
Itu memang masalah besar. Aura partai memang merusak langgam NU. NU memang sulit berpisah dengan politik karena, sebagai ormas besar, bobot politiknya juga besar sekali. Idealnya sih kiai memang tidak berpolitik. Seperti kata Arief Budiman, mereka harusnya menjadi cendekiawan di atas angin. Tapi okelah, tantangan ke depan, bagaimana NU menempatkan diri secara proporsional.

Soal terorisme dan kelompok radikal yang sering menjadi kritik Anda. Aksi teror belakangan marak lagi di Indonesia. Bagaimana sebetulnya memahami ideologi terorisme mereka?
Fenomena terorisme itu kompleks sekali. Tapi faktor utamanya ideologi. Dan ideologi tak bisa diindoktrinasikan kalau tak ada kondisi sosial politik yang kondusif. Ini bisa ditelusuri dari awal abad ke-20, sejak pendirian Ikhwanul Muslimin di Mesir oleh Hassan al-Banna pada 1928. Mulanya mereka tak radikal, tapi kemudian semakin radikal sejak 1950-an ketika ditekan dan aktivisnya banyak ditangkap pemerintah Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser. Salah satu ideolog yang paling berpengaruh adalah Sayyid Qutb. Saat di dalam penjara, sekitar 1954, Qutb menulis pamflet Ma’alim fi’l Tariq atau Rambu-rambu di Jalan. Tulisan ini menjadi inspirasi bagi aktivis muslim di berbagai negara untuk melakukan perubahan radikal.

Ideolog lainnya?
Tokoh lain adalah Syed Abul A’ala Maududi, wartawan dan pemikir Islam dari Pakistan. Dia banyak sekali menulis buku dan pamflet dalam bahasa Urdu. Salah satunya Al-jihad fi’l Islam pada pertengahan 1930-an. Dalam pamflet itu, dia mengajukan penafsiran ulang atas doktrin jihad yang baru sama sekali. Semula jihad di kalangan ulama Islam dimaknai sebagai doktrin defensif. Di kalangan Nahdlatul Ulama, misalnya, jihad dipahami bahwa kalau negara atau tanah Islam diserang oleh umat nonmuslim, umat Islam berhak membela diri. Salah satu contoh jihad defensif ini, ketika pada akhir 1940-an Belanda melancarkan agresi pertama, pendiri NU, Kiai Hasyim Asy’ari, menyerukan resolusi jihad melawan Belanda di Jawa Timur.

Seperti apa jihad versi Maududi?
Maududi memaknai jihad sebagai perang ofensif yang sah. Artinya, umat Islam boleh berdakwah dengan cara perang. Qutb juga bilang, kalau orang-orang lain di luar Islam tak mau menerima kebenaran Allah, mereka boleh diperangi. Nah, tafsir itu yang menginspirasi anak-anak muda bergairah kembali mempelajari Islam, terutama setelah revolusi Iran pada 1979. Mereka mengharapkan kebangkitan Islam melalui revolusi baru yang dapat mengubah tatanan dunia melawan dominasi Amerika Serikat.

Siapa lawan mereka sebenarnya: zionis, Amerika, negara Barat, atau kafir?
Lawan utama mereka adalah kafir. Makanya mereka memakai konsep Darul Islam, negara di mana Islam dijalankan, dan Darul Harb, negara tempat Islam dimusuhi. Pembagian seperti itu menjadi pembenaran mereka mengumandangkan perang terhadap negara lain yang dianggap memusuhi Islam. Amerika dianggap sebagai ikon musuh Islam, melambangkan sekularisme, sementara Amerika sendiri melakukan petualangan berbahaya seperti mendukung Israel, menjatuhkan Taliban, dan menginvasi Irak.

Berbeda dengan Ikhwanul, bukankah Al-Qaidah tak mengkampanyekan pendirian negara Islam?
Fokus mereka saat ini memang mengusir pasukan kafir dan salibis dari tanah-tanah Islam: Irak, Afganistan, Indonesia. Tapi cita-cita akhir mereka jelas, yakni mendirikan negara Islam. Tokoh Al-Qaidah, Ayman al-Zawahiri, berasal dari Mesir, dipengaruhi tokoh Ikhwanul, terutama Qutb. Menurut Qutb, walaupun umat Islam saat ini membaca syahadat, menjalankan salat, dan membayar zakat, Islam mereka tak berarti apa-apa karena hanya menjalankan ritual formal Islam. Mereka hidup di era jahiliyah. Tugas umat Islam saat ini, kata Qutb, mengislamkan kembali orang Islam dan menumbangkan rezim sekuler.

Ada yang mengatakan terorisme berakar pada persoalan ekonomi. Menurut Anda?
Itu analisis yang dipaksakan. Sebab, kalau diteliti bahasa dan retorika mereka, tak ada indikasi sedikit pun mereka peduli pada masalah kemiskinan. Bagi mereka, masalah kemiskinan, kesenjangan sosial, dan urusan duniawi hanya urusan remeh-temeh.

Walaupun kemudian dibantah, polisi berniat mengawasi ceramah di masjid. Apakah Anda setuju?
Pengawasan memang perlu, tapi tak perlu diungkap ke publik. Kelompok ini kan tidak banyak, jadi yang diawasi tidak setiap masjid seperti zaman Orde Baru. Yang diawasi hanya kelompok yang ditengarai terkait dengan jaringan teroris. Masjid NU, Muhammadiyah, atau Betawi tak usah diawasi. Tapi kalau polisi mau mengawasi semua masjid, ya, harus ditentang.

Polisi juga memeriksa Jemaah Tabligh. Apa benang merahnya dengan kelompok radikal?
Jemaah Tabligh sama sekali tak ada hubungannya dengan gerakan radikal. Ciri-ciri kelompok radikal itu sangat khas, yakni doktrin jihad dengan kekerasan. Dalam Jemaah Tabligh, tak ada ajaran seperti itu.

Bagaimana dengan ide deradikalisasi teroris? Apakah mungkin?
Ada dua bentuk. Pertama terhadap mereka yang sudah terpapar ideologi ini. Program seperti ini sudah pernah dilakukan negara seperti Mesir dan Yaman. Orang-orang yang pernah bergabung dengan organisasi radikal dengan metode kekerasan, tapi kemudian bertobat, dipakai pemerintah Mesir untuk menyadarkan rekan-rekannya. Cara ini ada hasilnya. Polisi Indonesia sepertinya juga sudah memakai metode ini. Yang kedua adalah melindungi orang-orang yang belum terkena ideologi tersebut. Ulama muslim perlu membuat tafsir tandingan supaya orang tidak terpukau dengan doktrin jihad kekerasan.

Anda sudah empat tahun di Amerika Serikat. Apakah fobia terhadap Islam di sana masih ada?
Saya tak pernah mengalami pengalaman yang menyakitkan. Setelah peristiwa 11 September, memang muncul fobia terhadap Islam, tapi usaha untuk memahami Islam juga besar sekali. Peristiwa 11 September seperti berkah di balik bencana. Setelah kejadian itu, orang-orang berminat mempelajari Islam. Kursi studi Islam di perguruan tinggi laku. Buku-buku tentang Islam laris sekali, walaupun buku anti-Islam juga laris. Misalnya Robert Spencer, yang menulis buku-buku anti-Islam, seperti The Invasion of Islam, jadi perbincangan dan sering jadi narasumber di kanal Fox. Tapi kanal televisi utama seperti CNN, PBS, dan NBC malah mempromosikan pemahaman terhadap Islam.

Tak pernah mengalami gangguan?
Sama sekali tidak. Istri saya mengenakan jilbab, bekerja sebagai juru masak. Teman-temannya beragama Yahudi, Katolik, dan Protestan, dari Venezuela, Israel, dan Jepang. Mereka malah bersimpati kepada istri saya. Mereka bilang, “Anda pakai jilbab, tapi tidak merasa terhalang bersosialisasi dengan kami.” Anak saya juga kalau bulan puasa berpuasa. Gurunya berusaha sebaik mungkin menjelaskan soal puasa kepada murid yang lain dan mengajarkan toleransi terhadap ritual muslim. Saat saya mengundang tetangga apartemen, yang tak satu pun muslim, untuk buka puasa bersama, saya terkejut tetangga saya yang Kristen hari itu ikut puasa untuk menghormati saya.

Bagaimana pengalaman di Harvard?

Suatu kali ada tuntutan dari beberapa muslimah yang tak nyaman berolahraga bersama laki-laki. Mereka minta diberi waktu khusus fitness. Universitas Harvard mengabulkannya. Memang ada yang memprotes keputusan itu, tapi universitas jalan terus.

Riwayat Hidup

Lahir: Pati, Jawa Tengah, 11 Januari 1967

Pendidikan:
- Pondok Pesantren Mansajul ‘Ulum, Cebolek, Kajen, Pati
- Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang
- Sarjana, Fakultas Syari’ah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab, Jakarta (1993)
- Master, Perbandingan Agama, Boston University, AS (2007)
- Kandidat Doktor, Near Eastern Languages and Civilizations, Harvard University, AS

Pekerjaan:
- Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama, Jakarta
- Direktur Program Indonesian Conference on Religion and Peace
- Koordinator Jaringan Islam Liberal
- Direktur Freedom Institute, Jakarta